23.11.09

labil-man

currently listening: Stereophonics - Maybe Tommorow

Saya nulis postingan ini dgn ilustrasi : (1). lagi dibandara, (2). masih nunggu 4 jam lagi sebelum brangkat, (3). keadaan jiwa lagi labil.

19-Nov kemarin tepat 3 bulan jadi pengangguran, ikut tes sana sini dgn rute jakarta-jambi-jakarta-surabaya-bandung-jakarta. Ada beberapa yg sukses ke tahap selanjutnya, tapi gak sedikit jg yg gagal.

Ditambah lagi, ada tes yg saya ikuti dgn sukarela tapi ada juga yg setengah hati (tapi sayang duit transportnya setengah mampus). Sudah dapat lampu hijau S2 management, mendadak malah pingin ambil kajian ketahanan nasional biar bs jd ahli geopolitik. Dan tiba2 juga kok pingin mandiri, lebih pingin cari beasiswa.

Dulu saya kira masa skripsi adalah masa terberat, eh ternyata salah. Ijazah udah ditangan, hati senang, tapi cuman bertahan seminggu. Setelah itu yg ada difikiran saya "nah lo, skrg lo mau ngapain?".

Inti tulisan saya? gak ada, cuman pingin ngomel aja. Beberapa temen bilang 6 bulan nganggur masih wajar, temen deket saya pun malah setahun nganggur sampai akhirnya dapet kerjaan yg worth it.

Intinya lagi, saya skrg lg butuh kesabaran dosis tinggi. Ujian banget memang buat saya yg notabenenya selama ini jalan hidupnya dr TK-KULIAH selalu dimudahkan.

PS: uneg-uneg ini semoga bs jadi bahan lucu2an kalau udah dapet kerja nanti :D

13.11.09

cerita si bebek

currently listening: Norah Jones - Chasing Pirates

Waktu saya pulang ke jambi selama dua minggu kemarin (setelah 2 tahun gak pulang, tahun ketiga bisa-bisa saingan sama bang thoyib haha), hal pertama yang pingin saya lakukan adalah membongkar masa lalu. Membongkar masa lalu yaitu membuka box-box lama di gudang sambil mengingat detail-detail yang pernah dilalui.

Saya menemukan si bebek cerewet ini. Bebek yang biasanya dipakai untuk aksesoris mandi ini sudah menemani saya dari TK nol besar. Dulu saya terobsesi mengkoleksi produk bonus Happy Meal-nya Mc.D, tapi apa daya di Jambi gak ada Mc.D akhirnya papa meng-akali saya dengan membelikan mainan ala kadarnya ini.



Kalau marah pasti saya banting, kalau senang saya ajakin mandi bareng, kalau sedih saya genggam erat-erat. Banyak ceritalah pokoknya.

Ternyata benar kata seorang teman, kebahagian itu sebenernya bisa muncul dari hal-hal kecil yang remeh. Akhirnya, bebek cerewet ini say adopsi lagi ke Jogja, mana tau masih bisa jadi teman yang bisa kasih saya kebahagiaan kecil.

kwek kwek

30.10.09

this is it

currently listening : Michael Jackson - Human Nature

Untuk mencegah antrian panjang, semalam saya langsung memesan tiket 'This Is It' online. Setelah tidak berhasil membujuk seorangpun teman, akhirnya saya menonton film ini sendiri. Begitu sampai di tempat, ternyata sepi-sepi saja, di studio pun kursi yang terisi paling hanya 10%.

Ada 2 alasan kenapa saya ngotot melihat film ini ; (1). saya besar dengan lagu2 MJ yg hampir rutin diputer setiap pagi oleh ibu dan kakak perempuan saya, (2). menebus rasa durhaka karena setelah beberapa tahun terakhir sebelum MJ meninggal, saya agak cuek sama beliau.

'This Is It' digadang-gadang akan menyajikan rekaman latihan konser dengan nama yg sama sampai H-8. Alur dibuka dengan sedikit interview dengan para penari latar yang berasal dr berbagai negara, yg kebetulan lolos audisi untuk mengisi konser ini. Mereka rata-rata memang tau betul siapa calon bos (baca:MJ) nantinya, dan MJ memang sebuah pengaruh besar bagi mereka untuk terjun di dunia tari. 

Kemudian dilanjutkan dengan repertoir lagu yang akan dinyanyikan dalam konser itu. Hampir semua lagu dinyanyikan penuh lengkap dengan koreografi yg menawan. Di beberapa part MJ sempat bilang bahwa suara yg dikeluarkan saat latihan belum penuh, dikarenakan MJ harus menjaga stamina suaranya di hari H nanti, tapi saya jadi heran "kok ya belum penuh tapi suaranya masih edan, stabil dan terjaga, apalagi di hari-H nanti ya?".

MJ memang musisi sejati. Kebanyakan artis hanya terima beres aransemen, tapi MJ tidak, dia tau semua kunci lagu, dia tau dinamika, dia peka terhadap tempo dan tak jarang diperlihatkan MJ ikut meng-aransemen dan 'memarahi' musisinya jika salah. Begitu juga dengan koreografi dan tetek bengek lainnya. Dia ingin semuanya sempurna.

Tak ketinggalan semua musisi pendukung juga ikut angkat suara, kebanyakan memuji musikalitas dan kerendahan hati seorang MJ. MJ bahkan merencanakan untuk mengubah jadwal konser, dengan membiarkan musisi (gitaris)-nya untuk tampil solo, benar2 rendah hati.

Selama 2 jam kurang 10 menit, saya ikut bersenandung bersama beliau, memang tidak semua lagu. Tapi pada I'll Be There, Smooth Criminal, I Just Can't Stop Loving You, Human Nature dan Man In The Mirror saya hapal diluar kepala. Khusus Man In The Mirror yg notabenenya lagu terbaik MJ menurut saya (karena kekuatan liriknya), saya agak khawatir karena ditunggu kok tidak nongol2, ternyata menjadi penutup manis di film ini, diiringin dengan single 'This Is It' sebagai pengiring credit tittle.

Saya, selaku penggemar beliau sudah tentu menyukai film ini (faktor subjektiv). Jujur saya mulai menangis di track 'They Don't Really Care About Us', berlanjut pada I'll Be There, Earth Song dan Man In The Mirror. Temukan sendiri mengapa pada lagu itu terasa sangat emosional untuk ditonton. Terlebih pada I'll Be There.

(9/10)

I Miss You MJ.. 
We never know the worth of water 'til the well is dry. Dan itulah yg saya rasakan sebagai penggemar durhakamu, ternyata setelah beliau pergi, saya benar-benar-amat-sangat rindu.